Menantu Durhaka

Hiduplah seorang nenek tua yang terpaksa hidup bersama seorang putra yang sangat disayanginya dan sukses menjadi orang kaya, seorang menantu yang cantik dan pandai serta seorang cucu laki-laki yang masih bayi karena sang nenek sudah tidak memiliki tempat untuk berteduh yang layak. Penglihatan sang nenek sudah kabur dan tidak dapat mendengar dengan baik. Lututnyapun sudah mulai bergetar karena fisiknya yang sudah tua renta. Setiap sang nenek duduk dekat meja makan, ia tidak mampu lagi memegang sendok dan garpu. Kadang-kadang ia lupa pula sup di atas taplak meja. Dari dalam mulutnya selalu saja sup itu mengalir lagi keluar.

Dengan kondisi demikian, sang putra Anak laki-laki dan menantu perempuannya selalu merasa jijik dengan hal itu. Sang menantu meminta kepada putranya untuk menempatkan sang nenek di belakang rumah mereka dan dibuatkan gubuk kecil untuk Sang nenek. Sang nenek itu akhirnya kesehariannya duduk sendirian di sudut rumah dan mereka memberi makan kepada sang nenek hanya dengan mangkok yang kecil yang yang diantar setiap hari oleh seorang pembantu. Sang nenek sering tidak mendapat makan dan minum yang cukup dan tentu saja ia tetap lapar dan haus karena kesibukan sang pembantu melayani putra dan menantunya. Kadang ia melintas dari balik jendela untuk melihat apa saja yang ada di meja makan dengan sedih, selanjutnya keluarlah air matanya.

Suatu ketika jemarinya yang sudah tua tidak dapat lagi memegang mangkuk. Mangkuk itu jatuh dan pecah dan sang pembantu menyampaikan kepada sang majikannya. Menantu perempuannya mengumpat dan mencaci-maki. Tapi, sang nenek tua itu tidak berkata sedikit pun. Ia membiarkan semuanya terjadi. Lalu Menantunya itu membelikannya sebuah piring yang terbuat dari kayu dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kini dengan piring kayu itu sang nenek tua itu harus makan. Piring kayu ini dapat membuat sang nenek tua lebih tenang karena tidak dapat pecah. Sang putra tercinta dan menantu pun hampir tidak pernah berkomunikasi dengannnya bahwa sekedar berkunjungpun tidak dilakukannya untuk melihat kondisi sang Ibu yang telah melahirkan dan merawatnya penuh cinta kasih dan perjuangan dengan darah dan deraian air mata hingga menjadi manusia yang sukses.

Waktu terus berlalu hingga suatu ketika sang cucunya yang telah berusia 5 tahun sedang asyik bermain-main di taman dan berlari-lari dan meliat ada seorang tua renta sedang duduk-duduk di depan pintu gubuk belakang rumah. Dengan polosnya sang cucu bertanya kepada sang nenek, ”nenek ini siapa dan mengapa ada di gubuk?” dan dijawablah oleh Sang nenek, ”aku nenek mu nak, ibu dari ayahmu”. Dan mereka akhirnya saling berbicara sampai sang cucu merasakan nyaman bersama sang nenek. Sejak saat itu sang cucu senantiasa menyediakan waktunya untuk berkunjung ke gubuk sang nenek. Sampai di suatu ketika dia bertanya kepada sang nenek mengapa wadah makanan dan minumnya dari kayu dan sudah buruk rupanya karena telah dimakan waktu dan berbeda sekali dengannya. Dan sang nenek berkata bahwa ”itu adalah pemberian dari ayah dan ibu mu, nak!”. Sang cucu berpikir untuk memberikan wadah piring kayu kepada orang tuanya seperti yang dilakukan ayah ibunya kepada Sang Nenek. Kemudian sang cucu mencari mengumpulkan batang-batang kayu dan akhirnya ia menemukan sebuah piring kayu yang mirip dengan apa yang dimiliki sang nenek di sebuah selokan dekat rumahnya.

Dia kemudian mencucinya hingga bersih. Di saat makan malam bersama ayah dan ibunya, ia berkata kepada sang ayah”Yah, aku mau memberikan sesuatu kejutan buat ayah dan ibu”, Kedua orang tuanya terheran-heran dan bertanya dengan tersdenyum, ”apa yang hendak kau berikan pada kami, anakku tersayang?”

“Aku berikan sebuah piring kayu untuk Ayah dan Ibu,” jawab anaknya polos, “dengan piring kayu ini ayah dan ibu akan makan, jika nanti aku sudah besar.”

Ayah dan ibunya saling bertatapan dan mereka mulai menangis sejadi-jadinya karena teringat dengan seorang nenek tua di gubung belakang rumah mereka. Mereka lalu pergi ke gudang belakang bersama anaknya untuk mendatangi sang nenek tua. Dan mendapati sang nenek telah menghembuskan nafas terakhirnya menghadap Sang Maha Pencipta. Sang putra dan menantunya tak sempat untuk memohon ampun dan maaf atas perbuatan mereka pada sang nenek. Nasi sudah jadi bubur, penyesalan tinggal lah penyesalan. Sang nenek tua sudah tiada dan tiada akan kembali ke dunia. Tiada berguna bagi sang putra untuk memperlakukan sang nenek tua ibunya dengan baik dengan berandai-andai.

Apa yang menjadi renungan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Dear Diary Blogger Template